Sabtu, 20 Mei 2017

Islam dan Andalusia


Oleh: Andriansyah 
           Tak terasa selang waktu antara kejayaan Islam di Andalusia dulu (sekitar tahun 700 M-1400 M) dengan keadaan umat Islam sekarang telah berpaut ribuan tahun. Bagaimana Islam ketika menguasai suatu daerah menjadi pelita ilmu yang membawa kesejahteraan dapat dilihat di Andalusia dulu ketika Islam masih berjaya di sana. Andalusia dahulu, ketika Islam masih menguasainya menjadi sebuah model kota berperadaban tinggi dan pusat tradisi intelektual dunia selain Baghdad. Penduduknya semangat mencari ilmu dan penguasanya cinta akan ilmu. Perpustakaan ada di setiap sudut kota. Berbagai ras, suku bangsa, bahasa, dan agama, hidup rukun, damai dan saling bertukar pikiran. Semuanya sejahtera di bawah naungan Islam yang membentuk pemimpin yang adil dan rakyat yang sejahtera. Begitulah ketika peradaban Islam memimpin dunia. 

Jika kita memahami apa yang terjadi di Andalusia ketika masa kejayaan Islam, niscaya kita akan mengetahui hakikat fondasi keilmuan dunia saat ini. Kemajuan teknologi yang di bawa peradaban Barat saat ini tentulah sedikit banyak juga membawa manfaat bagi umat Islam. Eropa saat ini telah menjadi tempat tujuan banyak pencari ilmu, sebagaimana Andalusia dahulu yang menjadi pusat ilmu dunia. Dibalik kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, perlu rasanya kita merenungkan apa yang pernah di sampaikan Newton kepada sahabatnya, Robert Hooke bahwa “If I have seen further, it is by standing on [the] shoulders of giants” (jika aku bisa melihat lebih jauh, maka hal itu lantaran aku berdiri di atas bahu para raksasa). 

Apa yang di katakan Newton senada dengan apa yang tertera di Google Scholar “Standing on the shoulders of the giants”. Kalimat ini bermakna pengakuan bahwa para ilmuwan ini belajar dari para pendahulunya. Maka bagi seorang muslim yang saat ini di “suapi” ilmu yang berdasarkan dari tokoh-tokoh/ilmuwan Barat, patut bertanya dari mana ilmuwan seperti Robert Boyle (1691), Isaac Newton (1727) dan Charles Darwin (1882) memperoleh ilmu? Jika dilihat pada tahun kematian mereka, apa yang terjadi sebelum para ilmuwan ini lahir pada tahun sebelum 1600-an ? kenapa sekarang kita hanya di ajarkan para-para ilmuwan Barat yang baru eksis sekitaran tahun 1600-an ? apakah manusia masih primitif sebelum ilmuwan Barat lahir sekitar tahun 1600-an?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan membawa kita merajut kembali sejarah yang terputus pada masa kejayaan Islam, baik di Andalusia maupun di Baghdad. Hal inilah yang saat ini menjadi suatu urgensi (keharusan yang mendesak) untuk memahami sejarah Islam guna mengenal siapa kita sebenarnya. Untuk memahami ini, dibutuhkan pengkajian secara terus menerus dan komprehensif guna mendapat gambaran jelas bahwa umat Islam pernah berjaya dengan Andalusia sebagai model kotanya. Perlu juga disadari bahwa, perkembangan keilmuan modern, pada dasarnya memiliki fondasi kokoh dari peradaban Islam di Andalusia.

        Faktanya, sangat sedikit yang tahu bahwa Keppler dan Copernicus terinspirasi oleh kitab Az-Zij karya al-Battani yang telah diterjemahkan ke bahasa Latin dengan judul De Scientia Stellarum oleh Robertus Retinensis dan Plato Tivoli. Bahkan teori kontrak Sosial yang di gadang-gadang penemu pertamanya adalah Thomas Hobbes, ternyata telah lebih dulu rumuskan oleh Imam al-Mawardi dalam kitabnya Ahkam Sulthaniyyah yang ditulis sekitar abad 400-an Hijriyah. Fakta-fakta ini harus membuka kesadaran umat Islam bahwa peradaban Islam pernah berjaya dan menorehkan tinta emas sejarah di dunia. Umat Islam harus berbangga diri dengan ke-Islamannya. Kita harus sadar dan berusaha bangkit mempelajari apa yang telah diperjuangkan para Ulama dulu. Andalusia sebagai contoh kejayaan Islam harus terukir di sanubari setiap Muslim bahwa Islam terbukti bisa berjaya. Dengan demikian, kita bisa kembali menyusun strategi mempersiapkan kebangkitan Islam layaknya di Andalusia.


Referensi:
Syamsuddin Arif, Transmigrasi Ilmu: Dari Dunia Islam ke Eropa, Jurnal TSAQAFAH, Vol. 6, No. 2, Oktober 2010.


Edgar Hamas, Fakta Penting Tentang Berakhirnya Islam di Andalusia, www.dakwatuna.com, 17 Maret 2015.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search